Hari ini, dia baru menemukan alasan. Seharusnya, dia telah menjadi pintar lebih awal. Padahal, hanya untuk sebuah alasan, dia harus berfikir keras sekali. Melebihi apapun.
Dia datang ke tempat itu dengan sebuah kebohongan yang kuat. Bahkan, jika harus mengambil kelas drama, pasti dia akan mendapat nilai terbaik.
Dia mendatangi apotik itu dengan sebuah niatan bohong hanya untuk membeli beberapa obat. Dia bisa membeli obat obatan itu di manapun. Namun, dia mempunyai niatan kecil. Dia ingin menemui malaikat tak bersayap yang telah membuat dia tertunduk malu. Bersembunyi di balik tudung kecil.
Dia telah mengumpulkan segenap kekuatan untuk menapaki gerbang tempat itu. Tidaklah terlalu berat bagi sebagian orang. Namun, bagi dia, semuanya terasa berat. Gaya gravitasi di tempat itu serasa menariknya lebih kencang.
Setapak demi setapak, dia melangkah. Nafasnya mulai tak teratur saat jantungnya memompa darah lebih cepat.
Dia membuka helmnya. Dia melihat beberapa orang di sana. Namun, dia hanya tertarik pada malaikat itu. Bibirnya terasa linu saat dia harus mengatakan apa yang ingin dia beli. Seseorang di sana menyapanya.
"Mas, beli apa?" tanya seorang perempuan di sana. Tingginya setinggi malaikat itu.
"Beli obat sangobion," Dia menjawab sambil tersenyum.
"Ini Mas. Apa lagi?"
"Obat anti malaria." Dia menjawab dan tersenyum kepada malaikat yang sejak tadi tersenyum menyambutnya.
"Buat sapa Tian?" Malaikat itu bertanya kepada dia.
"Buat adik, Devi. Dia pingsan soalnya tadi ndak makan."
Malaikat itu tersenyum. Semuanya seketika berubah. Suasana menjadi lebih sejuk. Persis seperti saat abu tersiram oleh hujan.
Dia hanya bertanya pada semesta." Subhanallah. Tuhan, pertemukan aku dengan malaikat seanggun dia. Akankah dia kelak yang menjadi makmum shalatku? Amin."
Selesai.
Bondowoso, 28 Juli 2015
Welcome to the world of contemplation, short story, and novel. All logic and fantasy are blended here. Have a nice reading
Langganan:
Postingan (Atom)
sang malam dan bintang
Sang malam menyapa dengan anggun nya Ditemani lautan bintang Terbesit kisah romantis antara malam dan bintang Membuat iri tiap insan cint...
-
Suatu pagi, aku berjalan-jalan mencari tempat hijau untuk kedamaian hati. Setelah lelah berjalan, aku duduk sejenak. Saat itu, aku melihat s...
-
Aku adalah samudra Merajut diam tiap waktu Menemani mentari di pagi Membujuk awan gelap pergi Aku adalah samudra Merangkai sunyi di ujung ha...