Cahaya Purnama
Bukan sedih yang aku ingat dari malam malam saat kita bersama. Bukan pula tetesan air mata saat aku simpan. Namun, hanya purnama yang pernah kita lihat bersama di atas kota kecil itu.
Barangkali, engkau hanya melihat bintang cahaya lain saat aku melihat purnama itu. Namun, tak setiap detik engkap menghadap cahaya itu. Kita juga pernah melihat sang pertapa malam bersama. Cahaya sang pertapa benar sehangat tatapan mu. Seketika, dinding hati luluh. Dan aku hanya bisa terseyum saat engkau berkata bahwa tatapan purnama seindah tatapanmu.
Pun, saat purnama hanya berbentuk sabit, engkau berkata bahwa bulan sabit itu adalah refleksi senyum indah mu. Aku hanya bisa tersenyum.
Jika engkau bertanya apakah aku merindukan purnama dan sabit itu, aku sungguh merindu.Tiap detik engkau bercahaya, aku masih ingat. Pun saat keheningan malam hanya menemani kita. Aku bintang dan engkau bulan. Aku selalu datang dengan cerita cerita aneh dalam bentuk miliar bintang.
Kau tak perlu menjadi bulan yang harus menjauh tertutup awan. Kau harus bercahaya. Di manapun engkau, bintang ini akan datang untukmu. Tiap malam, bintang bintang ini akan ada untukmu.
Be good there the moon.
Welcome to the world of contemplation, short story, and novel. All logic and fantasy are blended here. Have a nice reading
Rabu, 28 Maret 2018
Lukisan Persahabatan
Semalam, bulan tersenyum di atas lautan. Ia memanggil di dalam keheningan malam.
“Hai, manusia. Tidakkah kau merindukan mereka?” ucap bulan sambil tersenyum.
“Mereka? Aku tak mengerti maksudmu.”
“Mereka yang membuatmu tersenyum dan mengajarkan arti hidup.”
“Ah bulan. Kami telah berpisah. Kami telah memilih jalan kami masing-masing.”
“Karena itulah yang ingin hidup ajarkan padamu. Tiap yang bermula, akan beraakhir.”
****
Ternyata, percakapan ku dengan bulan hanya mimpi semu. Aku hanya anggap itu bunga tidur yang dikirim alam bawah sadar.
Aku menjalani hidup seperti biasanya. Aku mandi, makan pagi, latihan yoga, dan berangkat ke kampus.
Namun, ada yang menghentak pikiran dan nurani saat aku hendak mengenakan pakaian. Sebuah jaket berwarna abu-abu sedang memandang kosong kepadaku. Jaket itu adalah jaket kelas yang pernah aku buat dengan sahabat-sahabat di kampus.
“Kelas C. Bagaiamana kabar kalian?” ucapku dalam hati.
Aku berangkat ke kampus dengan penuh renungan dan semua ingatan kelas C.
Ingatanku tentang kelas C membuat pikiranku melayang diatas perahu rindu.
Aku coba buka folder-folder usang tentang kelas C. Banyak foto yang ingin aku unggah dan foto di atas yang terpilih.
Aku perhatikan seksama. Foto itu bak makhluk hidup yang sedang bersandung. Mengalun syahdu di tengah coretan kehidupan. Dan inilah lantunan yang memecah nirwana kehidupan.
***
Bumi menjadi saksi untuk pertemuan
Tawa yang menjadi awal kita
Menjadi awal untuk pelangi persahabatan
Kita pernah berceloteh bersama
Di puncak gunung, kita habiskan malam bersama
Dingin malam yang menjadi saksi bagaimana cerita dan cinta yang hidup di dalam cita
Hujan yang turun bercerita bagaimana kita pernah tertawa dan menangis bersama
Secangkir kopi menjadi sahabat menghabiskan malam panjang
Dan lautan menjadi tempat kita menghabiskan waktu seraya tertawa lepas
Tak ada yang abadi kawan
Sekali lagi, waktu menegaskan ini.
Setiap yang memiliki awal, akan memiliki akhir.
Kita telah memilih cerita kehidupan kita
Ingatlah persahabatan ini.
Ceritakan pada anak-anak kita betapa kita pernah bersama.
Menari di atas ombak kehidupan bersama.
Datanglah saat surat itu hadir.
Bawalah cerita kita dan ceritakanlah semuanya.
Semoga ini menjadi lukisan persahabatan terindah.
By: Tian
ditulis di Balai Bahasa Universitas Negeri Malang.
Rabu, 3 Mei 2017
Langganan:
Postingan (Atom)
sang malam dan bintang
Sang malam menyapa dengan anggun nya Ditemani lautan bintang Terbesit kisah romantis antara malam dan bintang Membuat iri tiap insan cint...
-
Suatu pagi, aku berjalan-jalan mencari tempat hijau untuk kedamaian hati. Setelah lelah berjalan, aku duduk sejenak. Saat itu, aku melihat s...
-
Aku adalah samudra Merajut diam tiap waktu Menemani mentari di pagi Membujuk awan gelap pergi Aku adalah samudra Merangkai sunyi di ujung ha...