Senin, 23 November 2020

Senyuman Gadis Kecil dan Secangkir Kopi

        Malam ini, kotaku menjadi begitu hening. Kota kecilku telah diguyur hujan mulai sore. Sisa-sisa dingin menusuk tulang ; menembus daging hidup. 
    Aku begitu letih untuk bergerak. Waktu setelah hujan adalah waktu terbaik untuk merebahkan diri. Tapi , tidak, aku baru saja mengingat. Aku memiliki janji dengan lama.
     Sambil menahan dingin, aku parkir dan ku panasi sepeda motorku. Cukup beberapa menit dan sepeda ku menjadi hangat. Ku pakai jaket tebalku untuk melawan yang semakin menggila menusuk daging dan tulangku.     
    Hujan nampaknya benar-benar membuat penduduk kotaku menjadi kaum rebahan. Beberapa kafe hanya berisi beberapa pasang muda-mudi. Kepulan asap membuktikan bahwa kehangantan menjadi tujuan mereka bersama di kafe. 
       Lima menit berkendara dan aku telah sampai di rumah kawan lama. Letih nampak di wajahnya. Dia baru saja pulang kerja. Celana pendek dan kaos menjadi ciri khas dia saat di rumah. 
        "Kopi, Dik?" ucap kawan lamaku.
        "Boleh." jawabku tanpa ragu.
        Perbincangan kami masih seputar kehidupan kami. Hidup menghadiahkan kami sebuah kisah bak pinang dibelah dua. Perbincangan kami terhela oleh tangisan anak kecil.
       Gadis kecil itu muncul dengan senyuman. Baju biru menempel di badan mungilnya dan bando hitam membuat ia semakin lucu. Anting kecilnya menempel di telinga kanan dan kiri. Sesaat, ia menatapku dan menangis. Kawanku mendekap dengan nyaman. Spontanitas seorang ayah. 
        "Tak inginkah kau menikah?" ucap kawan lamaku.
        "Belum ada yang cocok."jawabku sambil tersenyum.
        "Segerakan bos. Debay kayak gini bikin semangat kerja."imbuh kawan lamaku sambil menggendong anaknya. 
        Ku tatap lama si kecil. Ia menatap balik dan menangis. Ia menatap lagi. Begitu lama. Begitu dalam.
          "Menikahlah, om. Cita telah perjuangkan. Cinta juga perlu diperjuangkan." tatap mata si perempuan mungil itu seolah berbicara. Kemudia, sebuah senyum menyeruak di wajah mungilnya. 
           Aku membalas dengan senyum. "Baiklah."
        

sang malam dan bintang

Sang malam menyapa dengan anggun nya Ditemani lautan bintang Terbesit kisah romantis antara malam dan bintang Membuat iri tiap insan cint...