Tian kembali ke rutinitasnya. Menulis dan membaaca. Hanya saja semester ini, dia mulai menulis sesuatu yang berbeda. Thesis. Atau kita mengenal dengan sebutan Skripsi. Tian mulai menyibukkan diri dengan segala hal yang berkaitan dengan skripsi. Satu alasannya. Sakit. Hatinya sakit. Ya memang sakit. Sakit memang ketika Tian mulai memutuskan unntuk menjada jarak dengan Hasnah. Ia hanya merasa lebih baik ketika ia sedikit menjauh dari panggung opera milik Hasnah.
Namun semuanya menjadi semakin luar biasa ketika Meka memilki kekasih baru. Sentakan kecil muncul dari kedua mata Tian. Ingin menangis sekaligus tertawa. Jelas sekali ingin menangis jika ingat apa yang terjadi di masa lalu, dan ingin tertawa jika mengingat semua ini seprti petunjuk bahwa tinggal dia seorang yang belum aku tau jawabannya. Apa benar dia? Lucu sekali. Tian pun kembali hanya bisa tersenyum ketika dia melihat Meka menggunggah sebuah poto dengan mawar dari kekasihnya. Kenapa dia tidak mengatakan dari awal dan kenapa sahabatnya pun hanya diam seribu bahasa?
Sederhana memang ketika sebuah kebenaran itu muncul dari kata yang terucap. Sebuah tangis yang ditutupi gerbang. Indah sekali ketika dimasuki namun bukan tempat terindah untuk dimasuki. Tentang Nia, Hasnah, Meka dan Dia.
Tian pun tetap menulis seperti biasanya. Melihat sisi kehidupan dari sisi yang lain. Kini telah menulis hingga buku ke 14. Ia pun bahkan tidak pernah tahu pada hari ke berapa dia akan menemukan seseorang yang melengkapi kisahnya.
Matanya kini lebih tajam, sel tubuhnya semakin kuat bekerja, dan hatinya semakin kokoh. Itulah yang Tian bangun dari Self Hypnosis.
Dan Tian akan terus menulis...
Welcome to the world of contemplation, short story, and novel. All logic and fantasy are blended here. Have a nice reading
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
sang malam dan bintang
Sang malam menyapa dengan anggun nya Ditemani lautan bintang Terbesit kisah romantis antara malam dan bintang Membuat iri tiap insan cint...
-
Suatu pagi, aku berjalan-jalan mencari tempat hijau untuk kedamaian hati. Setelah lelah berjalan, aku duduk sejenak. Saat itu, aku melihat s...
-
Aku adalah samudra Merajut diam tiap waktu Menemani mentari di pagi Membujuk awan gelap pergi Aku adalah samudra Merangkai sunyi di ujung ha...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar