Jumat, 21 April 2023

Raung Takbir di Trenggalek

Sayup sayup
Masih terdengar bunyi jangkrik
Mengerik seakan tak mau kalah
Melawan sang raja 
Pembelah sunyi dan riuh
Penanda lapar dan haus akan sirna
Setidaknya itu yang ku tahu

Ramadhan dengan segala rahasianya
Seribu bulan yang bermanifestasi dalam semalam
Datang tanpa gelombang suara
Hanya menyapa dengan bahasa semesta
Hadiah untuk sang manusia yang lemah

Ramadhan dengan segala makanan dan minuman
Dalam sekejap, meja terhiasi oleh makan dan minum 
Bahkan , mereka datang tanpa diundang
Tak akan ada yang kelaparan atau kehausan
Ajaibnya bulan ini 

Ah.
Kau pergi terlalu cepat
Tak cukup 30 hari
Ku ingin 365 hari
Berjanjilah
Kita akan bercengkrama lagi
Menikmati kopi hitam
Hingga malam 
Hingga sang subuh tiba 

Selamat idul fitri
Untuk semua makhluk semesta


Rabu, 05 April 2023

Hujan Yang Dirindukan

Dari salah satu sudut tempat ini
Aku mulai menatap
Raga ini tak bisa bergerak
Hanya bisa menatap
Tiap tetes hujan yang terbang
Menghantam bumi
Berpadu dengan angin
Mendayu dengan mesra

Aku hampir lupa
Sudah berapa abad ini
Diriku menatap hujan 
Sambil menghitung rintik
Memang bak menghitung bintang
Tak akan ada habisnya

Hujan ini mulai melukis senja
Lagi dan lagi
Barangkali sudah seribu tahun
Entah berapa cerita terbingkai
Jika ada keping yang hilang
Petir akan menyambar
Membangunkan kisah yang tertidur

Aku begitu kaku
Aku setia membayangkan dirimu
Saat kau tersenyum ribuan kali
Namun
Aku hanya lalu dan lupa

Ucapmu
Kau terlalu buta untuk melihat yang lain

Begitulah romansa sore ini
Jika dulu aku hanya berlalu dan lupa dengan senyum mu
Kini, aku bingkai senyum itu di hati
Setiap detik
Itu saja

Selasa, 31 Januari 2023

Bangku kosong atau pikiran kosong


Dari sudut yang tak pernah terjamah 
Seharusnya mereka bertanya
Bukan menimbulkan tanya

Pagi ini sungguh elok
Realitas tak terbantahkan
Terkadang ego perlu ada
Banyak hal memang membatu
Mungkin akan berkarat
Mungkin akan membisu

Aku mulai bertanya 
Namun tak terbalas
Jika ada
Mereka menjawab
'Kamu nanya?'

Sejenak ku merenung
Tidakkah mereka ingin mencumbu waktu
Bukan hanya ha hi hu
Bahkan ba bi bu

Dunia ini adalah realitas dan hakikat
Tidak kah kampung mengabarkan ini?

Mungkin ini adalah awan mendung
Untuk pelangi setelahnya
Semoga saja
Ini fakta 
Bukan mimpi selamanya

Selasa, 17 Januari 2023

Selepas pertemuan itu

Aku begitu yakin
Badan ini kuat melawan semesta 
Tulangnya bisa sekokoh besi
Dagingnya bisa seteguh semen Gresik
Otaknya berkapasitas tak terbatas

Ah. 
Sombong tinggal nama saja
Datang ke tempat ini saja
Jaket masih membungkusku
Badan ini melawan angin sepoy sepoy
Sekarang semua terasa tak seperti dulu

Tulangku ingin memohon jeda
Dagingku meminta jatah lebih
Otakku selalu meminta tambahan waktu

Dulu, memang ku sesumbar mulutku
Menahan angin
Melawan jarak

Kini
Sebungkus Tolakangin selalu menemani
Mengisi saku saku baju , jaket dan tas ranselku.

Minggu, 18 Desember 2022

aku bodoh

Sore ini
Aku kembali mendapatkan hidayah
Mulut mengucap 'hmm gitu'
Yah aku mengerti satu hal
Ah. 
Bagaimana cara mengucapkannya?

Bolehlah
Aku menatap langit
Ternyata memang biru
Jika sedang sedih, dia menjadi kelabu
Kalau sedang marah, ia berteriak 
Duar... petir menyambar 

Jadi begini
Pak tua itu benar lagi
Cahaya itu harusnya masuk sejak lama
Ke semua makhluk
Dipaksakan masuk jika perlu
Agar hati bisa melihat semesta dengan cinta

Aku sekarang paham
Pak tua itu pintar memberi teka teki
Aku yakin teka tekinya masih banyak
Aku bodoh
Sombongku telah berkarat
Aku tahu 
Iyah tahu
Otakku berasap jika dipakai merenungkan semesta

Hahaha
Akhirnya aku paham kalimat itu
Bodohnya aku


Sabtu, 19 November 2022

Di tengah riuhnya warung mie

Benar
Aku melihat dari pojokan warung mie
Beribu pasangan
Beribu makhluk dengan pikiran terliarnya

Lelaki dengan headset mungil
Lelaki dengan permainan di gawai
Perempuan dengan rokok eletriknya
Perempuan dengan tatapan mesra ke pasangannya

Ada yang bercengkrama
Ada yang tertawa lepas
Ada yang berbicara serius

Ah.. 
Kan benar
Aku pernah melihat ini semua
Dulu sekali
Saat khayalan menyulam mimpi
Memabukkan hati dan pikiran
Hingga lupa tentang lalu, hari ini dan esok

Senang melihat ini semua
Ratusan kisah tercurah 
Ribuan novel akan tertulis
Ribuan puisi akan terucap
Ribuan pantun akan terlempar
Ribuan gombalan akan meluncur
Ribuan lagu akan ternyanyikan

Aku di sini 
Bersama pena dan buku
Dan kau di hatiku
Nanti kita ke sini
Bersama
Aku menulis
Kau temani saja dengan senyuman
Itu saja







Rabu, 26 Oktober 2022

Senja Bersama Bulan

Ah.
Begini saja, aku telah harsa.
Secangkir susu coklat panas.
Laraku hilang.
Tanpa masygul.
Titik. Tanpa Koma.

Engkau yang di sana.
Aku di sini.
Kita berjumpa via suara.
Itu kata lagu favoritku.

Senja ini sungguh nakal.
Aku diam sendiri.
Menyesap susu coklat panas.
Eh, senja datang membawa kabar.
Angin yang bertulang begitu lihai.
Mendekap erat.
Membuatku mengingat Bulan.
Hatiku pun menjadi renjana.

Aku tengok langit
Berharap bisa melihat Bulan.
Kan, senja nakal.
Langitnya mendung.
Bulannya dikekang awan gelap.

Satu , dua, tiga...
Langit mendung ku tiup.
Wus...
Sekarang aku bisa melihat Bulan.
Senyumnya tipis.

Lalu, ku kenakan sayapku.
Aku terbang ke atas.
Ku berbisik di telinga Bulan.
"Bulan, ku dekap engkau. Temani aku menikmati senja setiap hari. Love you."

Sabtu, 15 Oktober 2022

Senja

Menikmati senja di teras rumah
Mencumbu angin yang merayu
Ah... aku tergoda

Ku tatap langit sore 
Mungkin ia marah 
Lama tak ku sapa

Hey,
Langit aku di sini 
Untukmu
Mengapa kau sendu
Padahal aku rindu

Ke sinilah
Aku siap memelukmu
Dengan rindu 
Tanpa pilu 
Agar ku mampu
Menulis sajak rindu

Selasa, 20 September 2022

si kerudung putih

Nampaknya dia lupa tersenyum
Dia menikmati cemberut
Diam 
Mulutnya sedikit mencucu
Matanya menampakkan kebosanan
Tangan menopang wajah

Tiba tiba 
Dia protes
Berteriak
Melawan bosan di benaknya
"Pak ujian Bahasa Inggrisnya apa aja?"
Ucap si kerudung putih

"Pak . Pulang."
Teriaknya lagi.
Akhirnya dia pulang
Senyumnya menyingsing di wajahnya

Sabtu, 10 September 2022

Menyapa mu di sudut rindu

Tertiup angin ke ujung daun
Bergoyang melambai bak penari 
Gemulai
Mesra

Sepiring ketan 
Bertabur serbuk kacang hijau
Berpacaran di meja bersama secangkir kopi
Ah, kalian sungguh tak sopan
Aku kan jadi ingat

Tatapku tertahan
Tidak kah kau lupa?
Ini lah dejavu
Memori kita
Aku dan engkau

Kau memelukku 
Dingin dan membasahi

Ah, aku ingat .
Aku pernah menari bersamamu

Begitulah yang ingin ku sampaikan
Kau tak boleh nakal
Pergi pun jangan

Biar aku bisa menyapamu di sudut rindu

Rabu, 07 September 2022

Seni berbicara pada hening

Aku tak bisa beraksara
Jika berbicara pada semesta

Tentang harta , tahta dan cinta
Selalu membuat tanya

Aku hampir lupa
Aku masih punya Sang Pencipta

Aku percaya
Fana dan nyata adalah makna
Makna menemukan 
Dari mana, mengapa dan ke mana


A GIFT FROM THE DIVINE LOVE

A bright morning I stroll leisurely through the campus lanes The cool air seeps into my ribs Memories begin to misbehave, Emerging from the ...