Welcome to the world of contemplation, short story, and novel. All logic and fantasy are blended here. Have a nice reading
Senin, 16 Desember 2024
Kelas C, Kopi, dan Perasaan Mendalam
Minggu, 08 September 2024
Malang dan hujan pertama di bulan september
Mungkin, hal ini bukan terjadi pada diriku saja. Malang menjadi tempat kuliah yang suasananya membuat orang betah. Cuacanya yang sejuk membuat orang betah untuk jalan-jalan atau mungkin duduk di pinggir jalan. Kuliner dan tempat wisatanya pun benar benar lengkap. Kalua urusan pendidikan, Malang memang jagonya. Kampus top selevel Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang menjadi incaran anak-anak yang ingin kuliah di kampus negeri berkualitas, Jika ingin kuliah di kampus swasta yang berkualitas, ada kampus IAIN Malang, Universitas Islam Malang , dan Universitas Muhammadiyah Malang.
Ini adalah
kesempatan kedua buat saya untuk tinggal dan hidup di Kota Malang. Tentu ini
adalah sebuah dia yang pernah saya ucapkan di dalam hati sejak lama. Selepas
kuliah Pendidikan Profesi Guru di Universitas Negeri Malang (UM Malang), saya
sempat berdoa untuk kembali dan kuliah di sini lagi. Ternyata, Allah Swt mengabulkan
doa saya waktu itu. Sekarang saya belajar di Universitas Negeri Malang sebagai mahasiswa
program studi pascasarjana pendidikan Bahasa Inggris.
“Hamba betah
di Malang,” mungkin itu salah satu doa saya selama di Kota Malang. Terlepas saya
belum memiliki rumah, kendaraan mobil, dan pekerjaan tetap di Kota Malang, itulah
yang saya ucapkan di dalam hati.
Kota Malang
adalah kota kedua yang saya merasakan kenyamanan untuk tinggal setelah Kabupaten
Jember. Di Jember, ada banyak kenangan yang tertinggal. Ada banyak hal yang
membuat saya betah untuk tinggal di Kabupaten Jember. Mungkin tidak selengkap
Kota Malang, namun saya bisa mendapatkan apa yang saya butuhkan di Kabupaten
Jember. Masakan di Kabupaten Jember pun terasa cocok dengan lidah saya yang berasal
dari desa.
Mungkin yang
aneh bagi saya saat tinggal di Kota Malang adalah masakannya. Hamper semua
masakan terasa manis. Saya harus memesan dengan embel-embel ”Pedes banget” jika
saya ingin masakan yang sedikit nendang di mulut.
Saya sudah hampir
setahun di Kota Malang. Selama semester 1 dan 2, saya tidak sempat berkeliling Kota
Malang. Kehidupan saya hanya kampus dan kos-kosan. Sesekali saya bermain basket
di lapangan basket kampus atau lapangan basket di daerah rampal di hari sabtu. Jika
sudah bosan, saya akan pergi ke Kota Batu di hari Sabtu pagi setelah saya shalat
shubuh. Saya berkendara ke Kota Batu dengan kostum yang sedikit nyeleneh, yaitu
dengan menggunakan sarung.
Di sana,
saya menemukan sebuah tempat warung kopi yang menjual Susu Telur Madu Jahe (STMJ)
dan warung lain yang menjual ketan dengan topping kacang ijo halus. Saya
begitu menikmati makanan dan minuman dari kedua warung tersebut karena letaknya
yang berseberangan dengan Alun Alun Kota Batu. Segelas STMJ sudah cukup membuat
saya kenyang hingga siang atau sore hari.
Bagaimana dengan
harga makanan dan minuman di Kota Malang? Ini lah yang menjadi perdebataan. Bagi
saya yang finansial belum stabil dan terbiasa makanan dengan harga sepuluh
ribu, mungkin masakan dan minuman di Kota Malang sedikit mahal. Namun, bagi
orang Jakarta, harga harga di Kota Malang bak terjun bebas. Mereka bilang kalua
harga makanan dan minuman di Kota Malang ini setengah dari harga di Kota
Jakarta.
Jika ditanya
soal proses studi saya, tentu ini bisa panjang ceritanya. Saya paham betul
bagaimana kerasnya tranformasi dari seorang praktisi menuju seorang akademisi. Sebelumnya,
saya hanya menghabiskan waktu untuk menulis modul Bahasa Inggris singkat dan mengajar
Bahasa Inggris dasar. Kini, saya harus bertempur dengan artikel artikel internasional
dan dunia penelitian. Memang rasanya sulit namun ini jauh lebih menyenangkan
karena setiap kesulitan yang saya lewati seperti mengalahkan diri sendiri. Saya
belajar bahwa saya tidak merasa nyaman saat saya berada di zona nyaman. Mungkin
ini sejalan dengan ucupan salah dosen kepada saya,”kamu akan dewasa ketika kamu
tidak dipuja dan semua harus diurus sendiri.”
Bagi Sebagian
orang, kalimat ini mungkin terasa pedas didengar. Namun, inilah kalimat yang
membuat saya mencintai hidup di dunia rantau. Ada banyak hal yang saya pelajari
saat saya merantau. Tentu yang paling jelas adalah bagaimana runtuhnya ego diri
saya yang merasa selalu merasa besar dan benar. Banyak renungan yang saya pelajari
saat merantau dan saya tulis di buku harian saya. Mungkin, bahasa sederhananya begini,
”Rantau membentuk growth mindset saya.”
Ada banyak
hal yang saya ingin lakukan di Kota Malang. Semoga semua bisa tercapai di tengah
tuntutan saya menyelesaikan tugas akhir dan kewajiban saya sebagai kepala
keluarga.
Rantau benar
– benar mengajarkan kepada saya tentang kekuatan doa saya sebagai seorang
muslim. Saya mencintai Malang dan segala ceritanya. Saya merindukan Jember dengan
segala kenangannya.
Inilah renungan
saya saat menikmati hujan pertama di bulan September di Kota Malang. Baunya begitu
khas dan hawanya begitu pas. Pas untuk merenung maksudnya. Hehehe.
Semangat,
Mas Fen!
Minggu, 26 Mei 2024
Sebelum Semester Dua Usai
Aku kembali mengunjungi tempat ini. Kali ini, nuansa nya berbeda. Dahulu, aku menulis di bawah riuhnya Jember. Kini, aku menulis di bawah teduhnya Malang.
Siapa bilang kembali ke Kota Malang itu enak? Ya memang enak sih. Beberapa hal seperti diputar kembali. Hanya saja, orangnya sudah berbeda. Dingin, rembulan, angin dan syahdunya tetap sama.
Bakso Sayur belakang Balai Bahasa Malang masih menjadi tempat ikonik untuk dikenang. Momen perut keroncongan saat menjadi mahasiswa PPG benar benar masih melekat di Bakso Sayur Belakang Balai Bahasa. Yang beda, penjual es degannya sudah tidak ada.
Pernah, aku kembali ke Balai Bahasa Malang untuk mengikuti pembekalan pengajaran Mahasiswa S3. Program ini berlangsung seminggu. Tepat di hari pertama, aku datang lebih pagi. Aku terkejut saat mengetahui ruangan yang akan dipakai adalah ruangan saat menjadi mahasiswa PPG.
"Hai, aku yang dulu. Aku tepati janjiku. Aku di sini adalah doaku di hati terdalam." ucapku di raungan kosong itu.
Kota Malang. Barangkali, sekali orang terkena cipratan air Kota Malang, maka dia akan betah di Malang. Bisa jadi.Tapi entahlah.
Setahun sudah, aku hidup di Kota Malang. Barangkali aku mulai paham mengapa Allah mengirimku ke sini. Ada banyak hal yang harus aku dengar dan aku harus belajar diam.
Sosok mungil sering memanggilku dan seorang bidadari sedang diam merenung. Mereka sedang menungguku.
"Ayah, kenapa harus Malang?" mungkin sosok mungil itu kelak akan bertanya hal ini.
"Malang adalah doa dan kelak Subhan mengerti."aku akan jawab demikian.
Selasa, 20 Februari 2024
Senja yang tak dirindukan
Senin, 19 Februari 2024
Sang rumit
Selasa, 16 Januari 2024
Sepeotong ilham sebelum cahaya
Selasa, 02 Januari 2024
Dari ujung tersepi kota malang
Minggu, 15 Oktober 2023
Di sudut pondok ini
Selasa, 10 Oktober 2023
Di sebuah sudut kota ini
Dingin menyusup rusuk
Secangkir kopi ku teguk
Melepaskan kaitan dari pelukan hawa dingin
Tegukan pertama cukup menendang
Pikiranku berkelana
Tak bisa ku kendalikan
Ah. sungguh menyesakkan
Hanyak untuk berkunjung bukan untuk singgah
Seorang anak kecil memanggil
Dia bertanya dengan serius
Apa yang kau pikirkan
Ku jawab 'tidak ada'
'Tian, kau adalah pembohong yang gagal'
Rabu, 04 Oktober 2023
Sungguh syahdu
Rabu, 19 Juli 2023
selamat ulang tahun, tian
A GIFT FROM THE DIVINE LOVE
A bright morning I stroll leisurely through the campus lanes The cool air seeps into my ribs Memories begin to misbehave, Emerging from the ...
-
Suatu pagi, aku berjalan-jalan mencari tempat hijau untuk kedamaian hati. Setelah lelah berjalan, aku duduk sejenak. Saat itu, aku melihat s...
-
Lihatlah ke hutan ini Ribuan daun berguguran Membuat hutan berpuasa Menahan dahaga Demi suatu masa Aku merasa malu Hutan ini bagai berbicar...
